Ragam bahasa lisan adalah bahasa yang diujarkan oleh pemakai bahasa. Kita dapat menemukan ragam lisan yang standar, misalnya pada saat orang berpidato atau memberi sambutan, dalam situasi perkuliahan, ceramah. Dan kita pun dapat menemukan ragam lisan non standar, misalnya percakapan antar teman, di pasar, atau di kesempatan non formal lainnya.
Ragam bahasa tulis adalah bahasa yang ditulis atau yang tercetak. Seperti hal nya ragam bahasa lisan, bahasa tulis juga memiliki bahasa standar dan non standar. Ragam bahasa standar bisa kita temukan dalam buku-buku pelajaran, teks, majalah, surat kabar, poster, iklan. Kita juga dapat menemukan ragam tulis nonstandar dalam majalah, iklan atau poster.
Dalam penggunaannya tentu saja sangat bergantung situasi pemakain, apakah pemakain dilakukan saat formal atau nonformal. Penggunaan kata yang tepat akan memberikan kenyamanan pada lawan bicara atau pembaca.
Blog ini ditujukan untuk tugas-tugas kuliah, tetapi tidak menutup kemungkinan untuk tulisan yang bersifat umum.
Ferdian Faizal, Universitas Gunadarma, 2008
Ferdian Faizal, Universitas Gunadarma, 2008
Friday, November 19, 2010
Majas
Majas adalah gaya bahasa yang biasa digunakan untuk mewakili perasaan dan pikiran si
pengarang . Pemakaian ragam ragam majas tertentu ditujukan untuk memperoleh efek-efek tertentu,
keseluruhan ciri bahasa sekelompok penulis sastra
dan cara khas dalam menyampaikan pikiran dan perasaan, baik secara lisan
maupun tertulis
Majas itu sendiri memiliki 4 macam jenis.Yaitu majas perbandingan, majas sindiran, majas penegasan dan majas pertentangan. Keempat jenis majas tersebut memiliki fungsi yang berbeda-beda. Mungkin beberapa di antaranya pernah kita dengar sebelumnya. Contoh berikut ini tidak menampilkan keseluruhan contoh majas di atas, tetapi hanya beberapa ragam majas yang tidak terlalu asing bagi kita.
Contoh :
1. Majas Metafora : Gabungan dua hal yang berbeda yang dapat membentuk suatu pengertian baru. Contoh : Raja siang, kambing hitam
2. Majas Alegori : Majas perbandingan yang memperlihatkan suatu perbandingan yang utuh. Contoh : Suami sebagai nahkoda, Istri sebagai juru mudi
3. Majas Personifikasi : Majas yang melukiskan suatu benda dengan memberikan sifat – sifat manusia kepada benda, sehingga benda mati seolah-olah hidup. Contoh : Awan menari – nari di angkasa, baru saja berjalan 8 km mobilnya sudah batuk – batuk
4. Majas Perumpamaan ( Majas Asosiasi ) : Suatu perbandingan dua hal yang berbeda, namun dinyatakan sama. Contoh : Bagaikan harimau pulang kelaparan, seperti menyulam di kain yang lapuk
5. Majas Antilesis : Gaya bahasa yang membandingkan dua hal yang berlawanan. Contoh : Air susu dibalas air tuba
6. Majas Hiperbola : Suatu gaya bahasa yang bersifat melebih – lebihkan. Contoh : Ibu terkejut setengah mati, ketika mendengar anaknya kecelakaan
7. Majas Ironi : Gaya bahasa yang bersifat menyindir dengan halus. Contoh : Bagus sekali tulisanmu, sampai – sampai tidak bisa dibaca
8. Majas Litotes : Majas yang digunakan untuk mengecilkan kenyataan dengan tujuan untuk merendahkan hati. Contoh : Mampirlah ke gubuk saya ( Padahal rumahnya besar dan mewah )
9. Majas Sinisme : Majas yang menyatakan sindiran secara langsung. Contoh : Perilakumu membuatku kesal
10. Majas Oksimoron : Majas yang antarbagiannya menyatakan sesuatu yang bertentangan. Contoh : Cinta membuatnya bahagia, tetapi juga membuatnya menangis
11. Majas Metonimia : Majas yang memakai merek suatu barang. Contoh : Kami ke rumah nenek naik kijang
12. Majas Alusio : Majas yang mepergunakan peribahasa / kata – kata yang artinya diketahui umum. Contoh : Upacara ini mengingatkan aku pada proklamasi kemerdekaan tahun 1945
13. Majas Eufemisme : Majas yang menggunakan kata – kata / ungkapan halus / sopan. Contoh : Para tunakarya itu perlu diperhatikan
14. Majas Elipsis : Majas yang manghilangkan suatu unsure kalimat. Contoh : Kami ke rumah nenek ( penghilangan predikat pergi )
15. Majas Inversi : Majas yang dinyatakan oleh pangubahan suatu kalimat. Contoh : Aku dan dia telah bertemu > Telah bertemu, aku dan dia
16. Majas Pleonasme : Majas yang menggunakan kata – kata secara berlebihan dengan maksud untuk menegaskan arti suatu kata. Contoh : Mari naik ke atas agar dapat meliahat pemandangan
17. Majas Antiklimaks : Majas yang menyatakan sesuatu hal berturut – turut yang makin lama makin menurun. Contoh : Para bupati, para camat, dan para kepala desa
18. Majas Klimaks : Majas yang menyatakan beberapa hal berturut – turut yang makin lama makin mendebat. Contoh : Semua anak – anak, remaja, dewasa, orang tua dan kakek
19. Majas Retoris : Majas yang berupa kalimat tanya yang jawabanya sudah diketahui. Contoh : Siapakah yang tidak ingin hidup ?
20. Majas Aliterasi : Majas yang memanfaatkan kata – kata yang bunyi awalnya sama. Contoh : Inikah Indahnya Impian ?
21. Majas Antanaklasis : Majas yang mengandung ulangan kata yang sama dengan makna yang berbeda. Contoh : Ibu membawa buah tangan, yaitu buah apel merah
22. Majas Repetisi : Majas perulangan kata – kata sebagai penegasan. Contoh : Selamat tinggal pacarku, selamat tinggal kekasihku
23. Majas Paralelisme : Majas perulangan sebagaimana halnya repetisi, disusun dalam baris yang berbeda. Contoh : Hati ini biru Hati ini lagu Hati ini debu
24. Majas Kiasmus : Majas yang berisi perulangan dan sekaligus mengandung inverse. Contoh : Mereka yang kaya merasa miskin, dan yang miskin merasa kaya
25. Majas Simbolik : Majas perbandingan yang melukiskan sesuatu dengan membandingkan dengan benda – benda lain. Contoh : Dia menjadi lintah darat
26. Majas Antonomasia : Majas yang menyebutkan nama lain terhadap seseorang yang berdasarkan cirri / sifat menonjol yang dimilikinya. Contoh : Si pincang, Si
jangkung, Si kribo
27. Majas Tautologi : Majas yang melukiskan sesuatu dengan mempergunakan kata – kata yang sama artinya ( bersinonim ) untuk mempertegas arti. Contoh : Saya khawatir dan was – was dengannya
sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Majas
http://rachmahsriutami.blogspot.com/2009/08/macam-maca-majas-dan-contohnya.html
Majas itu sendiri memiliki 4 macam jenis.Yaitu majas perbandingan, majas sindiran, majas penegasan dan majas pertentangan. Keempat jenis majas tersebut memiliki fungsi yang berbeda-beda. Mungkin beberapa di antaranya pernah kita dengar sebelumnya. Contoh berikut ini tidak menampilkan keseluruhan contoh majas di atas, tetapi hanya beberapa ragam majas yang tidak terlalu asing bagi kita.
Contoh :
1. Majas Metafora : Gabungan dua hal yang berbeda yang dapat membentuk suatu pengertian baru. Contoh : Raja siang, kambing hitam
2. Majas Alegori : Majas perbandingan yang memperlihatkan suatu perbandingan yang utuh. Contoh : Suami sebagai nahkoda, Istri sebagai juru mudi
3. Majas Personifikasi : Majas yang melukiskan suatu benda dengan memberikan sifat – sifat manusia kepada benda, sehingga benda mati seolah-olah hidup. Contoh : Awan menari – nari di angkasa, baru saja berjalan 8 km mobilnya sudah batuk – batuk
4. Majas Perumpamaan ( Majas Asosiasi ) : Suatu perbandingan dua hal yang berbeda, namun dinyatakan sama. Contoh : Bagaikan harimau pulang kelaparan, seperti menyulam di kain yang lapuk
5. Majas Antilesis : Gaya bahasa yang membandingkan dua hal yang berlawanan. Contoh : Air susu dibalas air tuba
6. Majas Hiperbola : Suatu gaya bahasa yang bersifat melebih – lebihkan. Contoh : Ibu terkejut setengah mati, ketika mendengar anaknya kecelakaan
7. Majas Ironi : Gaya bahasa yang bersifat menyindir dengan halus. Contoh : Bagus sekali tulisanmu, sampai – sampai tidak bisa dibaca
8. Majas Litotes : Majas yang digunakan untuk mengecilkan kenyataan dengan tujuan untuk merendahkan hati. Contoh : Mampirlah ke gubuk saya ( Padahal rumahnya besar dan mewah )
9. Majas Sinisme : Majas yang menyatakan sindiran secara langsung. Contoh : Perilakumu membuatku kesal
10. Majas Oksimoron : Majas yang antarbagiannya menyatakan sesuatu yang bertentangan. Contoh : Cinta membuatnya bahagia, tetapi juga membuatnya menangis
11. Majas Metonimia : Majas yang memakai merek suatu barang. Contoh : Kami ke rumah nenek naik kijang
12. Majas Alusio : Majas yang mepergunakan peribahasa / kata – kata yang artinya diketahui umum. Contoh : Upacara ini mengingatkan aku pada proklamasi kemerdekaan tahun 1945
13. Majas Eufemisme : Majas yang menggunakan kata – kata / ungkapan halus / sopan. Contoh : Para tunakarya itu perlu diperhatikan
14. Majas Elipsis : Majas yang manghilangkan suatu unsure kalimat. Contoh : Kami ke rumah nenek ( penghilangan predikat pergi )
15. Majas Inversi : Majas yang dinyatakan oleh pangubahan suatu kalimat. Contoh : Aku dan dia telah bertemu > Telah bertemu, aku dan dia
16. Majas Pleonasme : Majas yang menggunakan kata – kata secara berlebihan dengan maksud untuk menegaskan arti suatu kata. Contoh : Mari naik ke atas agar dapat meliahat pemandangan
17. Majas Antiklimaks : Majas yang menyatakan sesuatu hal berturut – turut yang makin lama makin menurun. Contoh : Para bupati, para camat, dan para kepala desa
18. Majas Klimaks : Majas yang menyatakan beberapa hal berturut – turut yang makin lama makin mendebat. Contoh : Semua anak – anak, remaja, dewasa, orang tua dan kakek
19. Majas Retoris : Majas yang berupa kalimat tanya yang jawabanya sudah diketahui. Contoh : Siapakah yang tidak ingin hidup ?
20. Majas Aliterasi : Majas yang memanfaatkan kata – kata yang bunyi awalnya sama. Contoh : Inikah Indahnya Impian ?
21. Majas Antanaklasis : Majas yang mengandung ulangan kata yang sama dengan makna yang berbeda. Contoh : Ibu membawa buah tangan, yaitu buah apel merah
22. Majas Repetisi : Majas perulangan kata – kata sebagai penegasan. Contoh : Selamat tinggal pacarku, selamat tinggal kekasihku
23. Majas Paralelisme : Majas perulangan sebagaimana halnya repetisi, disusun dalam baris yang berbeda. Contoh : Hati ini biru Hati ini lagu Hati ini debu
24. Majas Kiasmus : Majas yang berisi perulangan dan sekaligus mengandung inverse. Contoh : Mereka yang kaya merasa miskin, dan yang miskin merasa kaya
25. Majas Simbolik : Majas perbandingan yang melukiskan sesuatu dengan membandingkan dengan benda – benda lain. Contoh : Dia menjadi lintah darat
26. Majas Antonomasia : Majas yang menyebutkan nama lain terhadap seseorang yang berdasarkan cirri / sifat menonjol yang dimilikinya. Contoh : Si pincang, Si
jangkung, Si kribo
27. Majas Tautologi : Majas yang melukiskan sesuatu dengan mempergunakan kata – kata yang sama artinya ( bersinonim ) untuk mempertegas arti. Contoh : Saya khawatir dan was – was dengannya
sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Majas
http://rachmahsriutami.blogspot.com/2009/08/macam-maca-majas-dan-contohnya.html
Internet
Internet memiliki fungsi yang sangat luar biasa berpengaruhnya terhadap perkembangan zaman. Di zaman sekarang ini seseorang bisa melakukan kegiatan tanpa harus meninggalkan rumah dengan menggunakan internet.Dengan internet kita dapat mengakses informasi-informasi dari seluruh belahan dunia.
Jumlah pengguna Internet yang besar dan semakin berkembang, telah
mewujudkan budaya Internet. Internet juga mempunyai pengaruh yang besar
atas ilmu, dan pandangan dunia. Dengan hanya berpandukan mesin
pencari seperti Google, pengguna di seluruh dunia mempunyai akses
Internet yang mudah atas bermacam-macam informasi. Dibanding dengan buku
dan perpustakaan, Internet melambangkan penyebaran(decentralization) /
pengetahuan (knowledge) informasi dan data secara ekstrim. Tentu saja selain mempunyai sisi baik internet juga mempunyai sisi buruk. Karena informasi yang sangat mudah didapat dengan internet, sehingga perlu di waspadai bahwa banyak sekali aspek negatif yang mungkin bisa merusak moral para penerus bangsa.
Selain itu juga internet sudah banyak tersedia di tempat umum, contohnya perpustakaan, cafe, rental internet, dll, sehingga agak aneh rasanya jika ada yang belum mengert dalam penggunaan internet itu sendiri. Penggunaannya yang praktis dan biaya yang dibutuhkan untuk penggunaan pun cukup terjangkau, dengan kata lain internet adalah sebuah jendela dunia yang bisa kita manfaatkan untuk belajar dan mencari pengetahuan.
Thursday, November 18, 2010
Insomnia
Insomnia adalah sebuah gajala sulit tidur. Insomnia bukan suatu penyakit, tetapi merupakan suatu gejala yang
memiliki berbagai penyebab, seperti kelainan emosional,kelainan fisik
dan pemakaian obat-obatan.
Sulit tidur sering terjadi, baik pada usia muda maupun usia lanjut; dan seringkali timbul bersamaan dengan gangguan emosional, seperti kecemasan, kegelisahan, depresi atau ketakutan.
Kadang seseorang sulit tidur hanya karena badan dan otaknya tidak lelah.
Dengan bertambahnya usia, waktu tidur cenderung berkurang. Stadium tidur juga berubah, dimana stadium 4 menjadi lebih pendek dan pada akhirnya menghilang, dan pada semua stadium lebih banyak terjaga. Perubahan ini, walaupun normal, sering membuat orang tua berfikir bahwa mereka tidak cukup tidur.
Pola terbangun pada dini hari lebih sering ditemukan pada usia lanjut. Beberapa orang tertidur secara normal tetapi terbangun beberapa jam kemudian dan sulit untuk tertidur kembali.
Kadang mereka tidur dalam keadaan gelisah dan merasa belum puas tidur. Terbangun pada dini hari, pada usia berapapun, merupakan pertanda dari depresi.
Orang yang pola tidurnya terganggu dapat mengalami irama tidur yang terbalik, mereka tertidur bukan pada waktunya tidur dan bangun pada saatnya tidur.
Hal ini sering terjadi sebagai akibat dari:
Sulit tidur sering terjadi, baik pada usia muda maupun usia lanjut; dan seringkali timbul bersamaan dengan gangguan emosional, seperti kecemasan, kegelisahan, depresi atau ketakutan.
Kadang seseorang sulit tidur hanya karena badan dan otaknya tidak lelah.
Dengan bertambahnya usia, waktu tidur cenderung berkurang. Stadium tidur juga berubah, dimana stadium 4 menjadi lebih pendek dan pada akhirnya menghilang, dan pada semua stadium lebih banyak terjaga. Perubahan ini, walaupun normal, sering membuat orang tua berfikir bahwa mereka tidak cukup tidur.
Pola terbangun pada dini hari lebih sering ditemukan pada usia lanjut. Beberapa orang tertidur secara normal tetapi terbangun beberapa jam kemudian dan sulit untuk tertidur kembali.
Kadang mereka tidur dalam keadaan gelisah dan merasa belum puas tidur. Terbangun pada dini hari, pada usia berapapun, merupakan pertanda dari depresi.
Orang yang pola tidurnya terganggu dapat mengalami irama tidur yang terbalik, mereka tertidur bukan pada waktunya tidur dan bangun pada saatnya tidur.
Hal ini sering terjadi sebagai akibat dari:
- Jet lag (terutama jika bepergian dari timur ke barat).
- Bekerja pada malam hari.
- Sering berubah-ubah jam kerja.
- Penggunaan alkohol yang berlebihan.
- Efek samping obat (kadang-kadang).
- Kerusakan pada otak (karena ensefalitis, stroke, penyakit Alzheimer).
Perubahan Kata Baku Terbaru
Pada awalnya dalam bahasa Indonesia hanya dikenal satu jenis penggunaan kosa kata, dan itu dikenal sebagai kata baku. Seiring berjalannya waktu dan zaman yang terus berubah, kata baku pun terus dikembangkan.
Walaupun pada kenyataannya kata baku mulai jarang diperdengarkan dalam percakapan sehari-hari. Pada zaman ini kebanyakan orang menjadi lebih fleksibel dalam penggunaan bahasa. Kebanyakan mereka dapat membedakan saat harus menggunakan bahasa baku atau sehari-hari. Singkatnya Bahasa Indonesia yang baik dan benar adalah Bahasa Indonesia yang digunakan sesuai dengan situasi pembicaraan, yakni, sesuai dengan lawan bicara, tempat pembicaraan, dan ragam pembicaraan dan sesuai dengan kaidah yang berlaku dalam Bahasa Indonesia Tetapi sebagai generasi penerus kita sudah sepatutnya untuk mempelajari bahasa baku itu sendiri.
Berikut adalah contoh kata baku yang telah diperbaharui :
1. Memperalat menjadi Memeralat
2. Memperbaharui menjadi Memerbaharui
3. Memperbaiki menjadi Memerbaiki
4. Memperkosa menjadi Memerkosa
5. Memperdaya menjadi Memerdaya
6. Memperlambat menjadi Melambatkan
7. Mempesona menjadi Memesona
Walaupun pada kenyataannya kata baku mulai jarang diperdengarkan dalam percakapan sehari-hari. Pada zaman ini kebanyakan orang menjadi lebih fleksibel dalam penggunaan bahasa. Kebanyakan mereka dapat membedakan saat harus menggunakan bahasa baku atau sehari-hari. Singkatnya Bahasa Indonesia yang baik dan benar adalah Bahasa Indonesia yang digunakan sesuai dengan situasi pembicaraan, yakni, sesuai dengan lawan bicara, tempat pembicaraan, dan ragam pembicaraan dan sesuai dengan kaidah yang berlaku dalam Bahasa Indonesia Tetapi sebagai generasi penerus kita sudah sepatutnya untuk mempelajari bahasa baku itu sendiri.
Berikut adalah contoh kata baku yang telah diperbaharui :
1. Memperalat menjadi Memeralat
2. Memperbaharui menjadi Memerbaharui
3. Memperbaiki menjadi Memerbaiki
4. Memperkosa menjadi Memerkosa
5. Memperdaya menjadi Memerdaya
6. Memperlambat menjadi Melambatkan
7. Mempesona menjadi Memesona
Monday, November 1, 2010
Vocalizing (vokalisi)
Seperti para olahragawan pro yang membutuhkan pemanasan yang berupa gerakan-gerakan ringan untuk melemaskan otot-otot tubuh sebelum melakukan olahraga, kegiatan menyanyi pun membutuhkan pemanasan. Tentu saja tidak sama dengan pemanasan yang dilakukan oleh para olahragawan, pemanasan dalam kegiatan menyanyi biasanya dilakukan dengan melantunkan solmisasi ataupun dengan humming.
Vocalizing sangatlah penting bagi para penyanyi. Khususnya saat akan bernyanyi di depan orang banyak. Karena vocalizing membuat pernapasan menjadi terbuka dan kondisi penyanyi menjadi lebih siap untuk bernyanyi dan meredam kemungkinan si penyanyi akan melantunkan nada fals.
Vocalizing sangatlah penting bagi para penyanyi. Khususnya saat akan bernyanyi di depan orang banyak. Karena vocalizing membuat pernapasan menjadi terbuka dan kondisi penyanyi menjadi lebih siap untuk bernyanyi dan meredam kemungkinan si penyanyi akan melantunkan nada fals.
Penggunaan Bahasa Baku
Pada dasarnya bahasa Indonesia dibuat sebagai kata baku, dan kata baku
itu sendiri pun terus mengalami perkembangan sampai sekarang.
Seiring perkembangan zaman, bahasa baku
itu sendiri sedikit kehilangan ‘nilai’ di mata para pengguna bahasa Indonesia. Secara kita tahu
dalam keseharian, kita jarang sekali membedakan kapan kita harus menggunakan
bahasa baku atau pun tidak baku. Itu mungkin dikarenakan dalam aktifitas
percakapan sehari-hari, bahasa baku
terdengar sedikit terlalu panjang. Padahal bahasa baku itu adalah acuan dari bahasa Indonesia
itu sendiri.
Bahasa baku
masih tetap digunakan dalam beberapa kesempatan, contohnya :
1. Komunikasi resmi, yakni dalam surat
menyurat resmi, surat
menyurat dinas, pengumuman-pengumuman yang dikeluarkan oleh instansi resmi,
perundang-undangan, penamaan dan peristilahan resmi, dan sebagainya.
2. Wacana teknis seperti dalam laporan resmi, karang ilmiah, buku pelajaran, dan sebagainya.
3. Pembicaraan didepan umum, seperti dalam ceramah, kuliah, pidato dan sebagainya.
4. Pembicaraan dengan orang yang dihormati dan sebagainya. Pemakaian (1) dan (2) didukung oleh bahasa baku tertulis.
2. Wacana teknis seperti dalam laporan resmi, karang ilmiah, buku pelajaran, dan sebagainya.
3. Pembicaraan didepan umum, seperti dalam ceramah, kuliah, pidato dan sebagainya.
4. Pembicaraan dengan orang yang dihormati dan sebagainya. Pemakaian (1) dan (2) didukung oleh bahasa baku tertulis.
Dengan sedikit penjabaran diatas tentu kita dapat menarik
kesimpulan bahwa bahasa baku
adalah salah satu ragam bahasa yang dijadikan pokok ajuan, yang dijadikan dasar
ukuran atau yang dijadikan standar. Tetapi kata baku ini agak sulit untuk dipahami, sehingga
dibutuhkan pemahaman atau daya nalar yang cukup tinggi.
Subscribe to:
Posts (Atom)